perekonomian

Menanti Lompatan Ekonomi dari Blok Cepu

Oleh Ihwan Sudrajat

PRODUKSI minyak Indonesia, yang saat ini terus menyusut hingga tinggal 1,1 juta barel per hari, tampaknya akan bangkit kembali. Kebangkitan itu akan dimulai tahun ini dari Blok Cepu, yang lokasinya berada di dua kabupaten, yaitu Blora di Jawa Tengah dan Bojonegoro di Jawa Timur. Kedua kabupaten yang dipisahkan aliran Sungai Bengawan Solo, dikenal sebagai daerah yang kering dan lambat kemajuan ekonominya.

Kabupaten Blora dikenal sebagai daerah dengan tingkat pendapatan per kapita yang sangat rendah. Meskipun kualitas jati Blora sangat terkenal, dan Blora menjadi pusat produksi jati dari PT Perhutani, namun imbasnya kepada kesejahteraan rakyat Blora hampir-hampir tidak terlihat. Di saat melintas dengan kereta api dari Surabaya ke Semarang, terutama setelah melintas Sungai Bengawan Solo, akan terlihat perbedaan cukup mencolok antara fisik rumah penduduk di Bojonegoro yang relatif lebih baik dibandingkan dengan penduduk yang tinggal di Kabupaten Blora.

Blora terkenal sebagai daerah yang paling sering dilanda kekeringan, air begitu langka, terutama pada musim kemarau. Dari 46 ribu hektare lahan sawah, 35 ribu hektare di antaranya adalah sawah tadah hujan, 1222 hektare sawah beririgasi teknis, sisanya ada yang berpengairan sederhana, atau irigasi desa. Artinya, intensitas pertanaman padi tidak penuh. Waktu yang tersisa digunakan untuk menanam jagung atau kacang ijo dan sebagian kecil kedelai. Jangan ditanya tentang produktivitas, karena untuk padi rata-rata produksi masih di bawah angka Jawa Tengah.

Ekonomi Blora, yang saat ini sangat tergantung dari sektor pertanian, memang tidak akan maju jika belum ada pembangunan bendungan untuk meningkatkan penyediaan air bagi produksi pertanian. Namun di tengah alam yang keras, ternyata Kabupaten Blora menyimpan kekayaan alam, khususnya minyak dan gas bumi yang sangat besar. Di luar yang dikelola oleh ExxonMobil, saat ini terdapat sekitar 510 sumur minyak yang beberapa di antaranya masih ditambang oleh Koperasi Unit Desa (KUD), dan hasilnya, sesuai ketentuan, dijual ke Pertamina. Di saat harga minyak masih di bawah 25 dolar AS per barel, meng-eksploitasi sumur tersebut tidak menguntungkan. Namun dengan tingkat harga sekitar 60 dolar AS per barel, tentu saja keuntungannya sangat besar.

Kehadiran Wakil Presiden ke Pusat Pendidikan dan Latihan Minyak dan Gas di Cepu pada tanggal 18 Februari 2006 boleh jadi merupakan jawaban terhadap harapan rakyat Blora yang sudah lama menunggu realisasi eksploitasi Blok Cepu. Sejak Nota Kesepahaman (MoU) tentang perpanjangan kontrak lapangan minyak dan gas di Blok Cepu yang dilakukan Ketua Tim ExxonMobil Oil Indonesia (EMOI) Stephen M Greenle dan Ketua Tim Negosiasi Perpanjangan Kontrak ExxonMobil, Martiono Hadianto, pada tanggal 25 Juni 2005 di Jakarta, kita memang belum melihat langkah konkret yang dilakukan PT Pertamina dan ExxonMobil. Janji yang pernah disampaikan Martiono Hadi-anto bahwa 90 hari setelah MoU akan dilakukan penandatanganan Joint Operating Agreement (JOA), ternyata hingga Wakil Presiden datang di Cepu, atau 210 hari dari MoU, penandatanganan JOA masih tetap merupakan wacana.

Pertanyaan yang menarik bagi kita adalah, apakah ada faktor nonteknis yang membuat Pemerintah tidak berhasil memaksa kedua perusahaan tersebut menandatangani JOA dan memulai eksplorasi Blok Cepu?

Pemerintah tampaknya berada dalam dilema, karena apabila langsung menunjuk EMOI sebagai operator akan mengundang kritikan karena dianggap tidak nasionalis. Sementara jika menunjuk Pertamina, maka Pertamina harus mengganti kerugian investasi awal EMOI yang akan menyedot dana sangat besar, hampir 500 juta dolar AS, dan pula harus memperhatikan kepentingan AS, yang justru sedang dalam kondisi hubungan bilateral yang sangat baik. Besarnya biaya impor BBM seharusnya dapat dikurangi beberapa bulan lalu, apabila Pemerintah sudah menentukan siapa yang pantas jadi operator Blok Cepu.

Dengan situasi yang sekarang sedang terjadi antara kedua korporasi dan perilaku energi yang tidak berpihak pada penguatan anggaran pembangunan, Pemerintah seharusnya sudah bertindak langsung untuk menyelesaikan persoalan Blok Cepu, karena hanya dengan imbauan atau pun dengan tenggat waktu (deadline) akan sangat sulit mempersatukan Pertamina dan EMOI yang sejak awal perundingan sudah berangkat dengan cara pandang berbeda. Saya teringat dengan kata-kata mendiang Deng Xioping, mantan perdana menteri China dan bapak modernisasi China, menanggapi derasnya kritikan terhadap kebijakan lompatan ke depan. Ia mengatakan, bahwa kucing atau anjing tidaklah penting, yang penting adalah bisa menangkap tikus.

Nilai Lebih

Dengan tingkat produksi awal sekitar 180 ribu barel per hari, Blok Cepu akan menjadi salah satu blok minyak yang memberikan pendapatan sangat signifikan bagi Pemerintah. Produksi ini diperkirakan akan terus meningkat, karena tingkat produksi tersebut baru perkiraan untuk beberapa ladang minyak saja. Saat ini terdapat 22 ladang minyak yang disinyalir mempunyai kandungan minyak sangat tinggi. Total kandungan minyak di sekitar Blok Cepu diperkirakan mencapai 1/5 dari total kandungan minyak Indonesia.

Dengan data seperti ini, sangat beralasan jika seluruh rakyat Blora dan Bojonegoro, bahkan Jawa Tengah dan Jawa Timur, menaruh harapan besar terhadap pengoperasian Blok Cepu, karena dari pengoperasian ini akan banyak lapangan kerja yang berhasil diciptakan, sejak dari hulu hingga hilir. Menurut seorang konsultan perminyakan, hanya untuk blok minyak dengan kapasitas produksi sekitar 20 ribu barel per hari terlibat setidaknya ada 5-7 perusahaan yang beroperasi pada beberapa objek usaha.

Cepu akan menjadi kekuatan ekonomi yang mampu membangkitkan potensi ekonomi di sekitar wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, jika mereka sejak awal mengantisipasi fasilitas apa yang dibutuhkan oleh para ekspatriat dan pekerja tambang di sana. Rembang dengan keindahan pantainya harus sudah sejak awal menyusun target untuk menarik para pekerja di Blok Cepu berwisata ke daerah tersebut. Hal ini butuh perjuangan, karena Kabupaten Tuban pun tidak akan tinggal diam, Pemerintah di sana bahkan sedang mempersiapkan pelabuhan yang dapat didarati oleh kapal-kapal tanker.

Dengan kandungan minyak yang saat ini relatif lebih besar di daerah Bojonegoro, peluang mendapat menfaat ekonomi yang lebih besar secara otomatis akan bergerak ke Jawa Timur pula. Namun dengan nilai lebih yang bisa kita kembangkan, bukan tidak mungkin efek multiplier-nya akan berimbang dan tentu kita harapkan lebih banyak bergerak ke wilayah Blora. Kalau pun situasi tersebut tidak berhasil diwujudkan, pengusaha Jawa Tengah seyogianya mampu menjadi driver yang mengatur arus transaksi di wilayah Blok Cepu.

Untuk menjadi daerah yang mempunyai nilai lebih, Blora harus menjadi main destination dari para pekerja dan pelaku transaksi yang memasok permintaan dan kebutuhan operasional Blok Cepu. Untuk itu perlu sarana jalan, penginapan, dan hiburan yang lebih baik. Akan lebih tepat apabila Pemerintah Daerah di Kabupaten Blora, Rembang dan Grobogan dengan koordinasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai melakukan kerja sama untuk mewujudkan nilai lebih tersebut, tidak harus dengan menggantungkan pada APBD setempat tetapi dengan mengundang dan memberikan insentif kepada para investor, atau pihak ketiga untuk menyediakan fasilitas tersebut.

Jalan Semarang – Blora akan menjadi urat nadi paling menentukan jika Jawa Tengah ingin menjadi home base dari operasional Blok Cepu. Perbaikan jalan yang saat ini sedang dikerjakan, seyogianya dapat dilakukan hingga ke Blora tanpa ada pemutusan kualitas di beberapa jalur, sehingga ekspatriat, pekerja dan pelaku usaha di Blok Cepu akan lebih senang mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang ketimbang di Surabaya.

Lompatan Ekonomi

Revolusi industri yang terjadi pada abad ke 18 di Inggris telah mengubah struktur perekonomian Inggris, sehingga menjadi ekonomi yang berbasis industri. Sektor pertanian yang semula dominan, akhirnya hanya memberikan kontribusi tidak lebih dari 3% terhadap perekonomian Inggris. Hal yang sama terjadi di Amerika, Australia dan negara- negara Eropa Barat lainnya. Mungkin hanya di negara Skandinavia, sektor pertanian, utamanya perikanan dan kelautan, masih memberikan kontribusi di atas 10% terhadap perekonomian negara tersebut. Artinya, diperlukan sebuah revolusi untuk mendapatkan kemajuan yang berarti dalam perekonomian. Penemuan mesin uap oleh James Watt di Inggris telah mengubah perekonomian di negara tersebut dan Eropa secara keseluruhan menjadi negara yang tidak lagi menggantungkan ekonominya terhadap pertanian.

Di Jawa Tengah, struktur perekonomian hampir tidak pernah berubah, sektor pertanian masih tetap menjadi sektor andalan, sementara sektor industri tumbuh sangat lambat. Berdasarkan sistem neraca sosial ekonomi Jawa Tengah yang merupakan perluasan tabel input output diketahui bahwa peningkatan pengeluaran pemerintah secara proporsional berdampak relatif cukup besar terhadap peningkatan kegiatan ekonomi, dengan pertumbuhan per sektor di atas 2,5 persen. Pertumbuhan tertinggi terjadi di gabungan sektor lembaga keuangan, real estate, jasa sosial dan budaya, serta jasa hiburan yang tumbuh mencapai 7,04%.

Paling kecil terjadi di gabungan sektor pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan dan industri makanan yang pertumbuhannya 2,54% (BPS Jateng, 2005). Angka tersebut menyiratkan betapa tingginya nilai tambah yang diperlihatkan oleh sektor jasa akibat peningkatan pengeluaran pemerintah dibanding sektor pertanian. Oleh karenanya, bukan hal yang mustahil, jika Blok Cepu sudah menghasilkan, yang paling merasakan efeknya adalah sektor jasa.

Data ini mengisyaratkan pula tentang tingginya kreativitas pelaku usaha Jawa Tengah dalam memenuhi kebutuhan jasa masyarakat. Inilah yang perlu diperhatikan Pemerintah Kabupaten Blora, Rembang dan Grobogan, tiga daerah yang akan merasakan langsung dari manfaat ekonomi Blok Cepu.

Jika kita mampu merespons dan mengelola dengan baik, Blok Cepu akan menjadi lompatan ekonomi atau sebuah variabel penting untuk merevolusi struktur ekonomi kita menjadi struktur yang lebih progresif. Tentunya bila kita tidak sekadar menjadi penonton. (24)

Peningkatan Produksi Minyak

Blok Cepu Jadi Andalan

[JAKARTA] Blok Cepu bakal menjadi andalan produksi minyak mentah Indonesia di masa mendatang, dengan kapasitas produksi 150.000-160.000 barel per hari (bph). Lapangan minyak yang terletak perbatasan Kabupaten Bojonegoro (Jatim) dan Kabupaten Blora (Jateng) tersebut bakal mengalahkan Caltex yang menghasilkan 417.000 bph atau 45 persen dari total produksi Indonesia, serta Pertamina dan anak perusahaannya sebesar 150.000 bph (16,2 persen).

Sebenarnya, Blok Cepu sudah dapat berproduksi saat ini, seandainya tidak ada sengketa penguasaan pada 2002-2003, dan masalah pembebasan lahan. “Akibat itu semua, Cepu baru berproduksi 20.000 bph akhir 2008, dan mencapai 150.000-160.000 bph tahun 2010-2011,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Jumat (16/5) pagi.

Kondisi itu mengakibatkan pemerintah tak kunjung mampu meningkatkan produksi minyak dalam negeri, sehingga menjadi sasaran kritik menjelang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) saat ini.

Untuk itu, banyak pihak mendesak pemerintah untuk tidak menunda lagi percepatan peningkatan produksi minyak. Salah satu potensi untuk memacu itu adalah ladang minyak mentah di Blok Cepu, yang dianggap memiliki cadangan besar. Badan Pengatur Hilir Migas (BP Migas) mencatat, Blok Cepu memiliki cadangan minyak terbukti hingga 352 juta barel, dan cadangan potensial 325 juta barel.

Terkait hal itu, Wakil Kepala BP Migas Abdul Muin, kepada SP di Jakarta, Kamis (15/5) menegaskan, produksi Blok Cepu sangat penting bagi produksi minyak nasional. Sebab, selama delapan tahun terakhir, hanya Blok Cepu yang memiliki produksi minyak besar. Oleh karena itu, proyek ini dinyatakan sebagai proyek nasional yang harus dimonitor agar tidak terjadi penundaan atau terganggu produksinya.

Diperkirakan, Blok Cepu akan mulai berproduksi pada Desember 2008 dengan jumlah produksi sekitar 20.000 barel per hari (bph). Puncak produksi diperkirakan pada 2011, dengan volume mencapai 165.000 bph selama 2-3 tahun. Lapangan Cepu mampu berproduksi hingga 20 tahun ke depan.

Dia optimistis percepatan produksi awal ladang minyak Banyu Urip di Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, akan sesuai target yakni akhir 2008. Sebab, masalah lahan yang selama ini mengganjal dimulainya kegiatan produksi, telah rampung meski baru sebagian kecil yang sudah dibebaskan. Dari total kebutuhan lahan untuk pengembangan Blok Cepu, yang mencapai 700-900 hektare (ha), sampai April 2008 sekitar 20.000 ha sudah dibebaskan. Pembebasan lahan diperkirakan baru rampung secara menyeluruh pada 2010-2011.

Muin mengakui, target waktu berproduksi Blok Cepu molor dari pertengahan 2007. Alasannya, karena masalah pembebasan lahan yang telanjur dikuasai spekulan, sehingga harganya melonjak.

Selain itu, pengembangan Blok Cepu juga berjalan lambat. Cadangan minyak di Banyu Urip ditemukan pada 2001, namun penentuan operatornya baru selesai pada 2005.

Secara terpisah, juru bicara EMOI Deva Rachman mengungkapkan, untuk mempercepat pembebasan lahan, pihaknya sebagai operator Blok Cepu telah bekerja sama dengan BUMD Blok Cepu. Selain itu, juga berkoordinasi dengan BP Migas dan Pertamina EP Cepu, selaku mitra operator.

Perlakuan Khusus

Menanggapi lambannya produksi Blok Cepu, sejumlah kalangan mendesak pemerintah untuk memberikan perlakuan khusus, terutama berkaitan dengan pembebasan lahan.

“Produksi minyak Cepu itu berpeluang bagi peningkatan produksi migas nasional. Harus dikeluarkan peraturan pemerintah atau keputusan presiden untuk mempercepat proses pembebasan lahan,” ujar anggota Komisi VII DPR Ade Daud Nasution.

Desakan senada disampaikan pengamat perminyakan Kurtubi. “Ini adalah kepentingan negara untuk menjamin sumber minyak nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) Effendi Siradjuddin membandingkan, ketika zaman Orde Baru, ada Badan Koordinator Kontraktor Asing yang mempercepat proses operasi kontraktor di lapangan. “Hal itu menyebabkan investor berduyun-duyun melakukan eksplorasi di Indonesia. Selama 20 tahun sejak 1970, produksi minyak nasional naik hingga lima kali lipat menjadi 1,7 juta barel per hari,” ujarnya.

Sementara itu, pada Kamis di pasar New York untuk kontrak pengiriman Juni, minyak mentah diperdagangkan di posisi US$ 124,12 per barel, dan sempat menyentuh US$ 126,64 per barel. Kondisi harga minyak itu tak terpengaruh insiden ledakan pipa minyak di dekat sebuah sekolah di Lagos, Nigeria. Ledakan itu pada Kamis (15/5) itu menewaskan sekitar seratus orang. Pada insiden serupa yang terjadi beberapa waktu lalu, sempat mengakibatkan lonjakan harga minyak mentah dunia. [P-12/DLS/H-13-AP/AFP/E-9]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: